![]() |
| Meskipun merugi karena harga cuma Rp340/kilo, petani singkong terpaksa menjual komoditasnya ketimbang tak merugi lebih besar lagi. (Foto:Dok.Lampost) |
Harga singkong di beberapa desa di Kecamatan Raman Utara, Lampung Timur, terus merosot tajam. Minggu (16/10/2016), harga komoditas tersebut di tingkat pengepul berskisar antara Rp340 hingga Rp360 per kilogram. Sedangkan di tingkat pabrikan harga tersebut masih tertahan di Rp480 perkilogram.
“Waduh singkong nggak ada harganya. Cuma Rp340 sekilo,” ungkap Parno, warga Rejobinangun saat ditemui seusai menjual hasil panennya. Meski merugi, ia terpaksa menjualnya ke pengepul, daripada tidak mendapat uang sama sekali dari tanamannya.
Nasih serupa dialami Rahmat, petani singkong di Desa Rejokaton. Menurut dia, harga komoditas umbi-umbian itu dalam dua tahun terakhir terus merosot dari Rp1.300 hingga kemarin tinggal Rp360. “Padahal, saat menanam saya sempat memperkirakan harga akan berangsur naik karena banyak tanaman padi yang dimakan wereng,” katanya.
Dia dan sejumla petani di beberapa kampung di Raman Utara mengakui umbi tanamnnya masih mungkin berkembang menjadi lebih besar, berbobot, dan memiliki kandungan tapioko yang lebih banyak. Dalam dua atau tiga bulan lagi, panen yang didapat bisa bertambah antara 0,5 hingga satu kali lipat lagi.
Namun, karena curah hujan dalam sebulan ini cenderung tinggi, tanamannya harus segera dipanen. “Kalau enggak cepat dipanen, bisa-bisa semua singkong yang ada dalam tanah busuk semua. Bisa enggak panen sama sekali dong saya,” tambah Tauhid, petani di bilangan Restu Rahayu, yang menanam singkong ¼ hektare.
Apalagi, sejumlah petani memperkirakan harga komoditas tersebut masih akan turun lagi hingga titik nadir. “Jadi kami ini sedang berburu dengan waktu; jangan sampai harganya terlalu jauh terperosok, jangan pula singkong yang akan dipanen keburu busuk akibat terus menerus terendam air.
Menurut sejumlah petani, nilai pengeluaran untuk bertanam singkong dengan hasil panen yang didapat sangat njomplang. “Jangankan untung, balik modal saja tidak,” ujar Tauhid. Sebab, untuk satu hektare tanam dia mengeluarkan modal berkisar antara Rp25 juta hingga Rp30 juta. Sementara panen yang dadapat cuma berkisar antara Rp20 juta.
Padahal, jika kondisinya stabil dan harga komoditas tersebut bertahan, dia memperkirakan setiap hektare bisa menghasilkan antara Rp40 juta hingga Rp45 juta. “Kalau harapan saya Mas, paling tidak seluruh modal kita bisa kembali lah. Dengan begitu, kita bisa tanam lagi dengan komoditas yang lain atau ganti.”
Kenapa kok nekat dicabut dan dijual? Menurut sejumlah petani, hal itu dilakukan agar kerugian yang diderita tidak semakin parah. Meskipun begitu, petani yang tanamannya cukup jauh dari jalan raya, membiarkan umbi tanammnya membusuk di batang. Alasannya, kalau dipanen, ongkos yang ditanggung jauh lebih besar dibanding jumlah uang yang didapat dari penjualan singkong.

Post a Comment