Halloween party ideas 2015

Penulis: Loganue Saputra Jr.

Saat di jalan menuju perpustakaan aku sedikit agak gelisah ketika melihat ke langit, beberapa awan menggumpal di kejauhan, beberapa warnanya dihiasi gelap pertanda bahwa kemungkinan hujan akan turun. Jika hujan sampai turun bisa-bisa perpustakaan akan sepi pengunjung, kemungkinan Pangesti datang juga semakin menipis. “Semoga angin membawa awan-awan itu menjauh,” bisikku pada diriku sendiri ketika menapaki anak tangga menuju pintu utama perpustakaan. 

Pintu perpustakaan kubuka separuh, aku mulai menyapu di beberapa bagian, menyemprotkan pengharum ruangan sambil mendengarkan lagu Yesterday The Beatles. Aku suka lagu itu, ada kenangan yang sangat mendalam tentang Ayahku akan lagu itu. Biasanya tiap akhir pekan Ayahku selalu mengajak aku memancing di tempat pemancingan umum, kami memang jarang bicara, maksudku aku lebih banyak diam dan mendengarkan jika ia bicara.

Dan pada suatu hari ketika kami memancing, entah mengapa Ayah bercerita tentang lagu YesterdayThe Beatles itu. Katanya dulu semasa sekolah ia punya seorang sahabat yang suka menyanyikan lagu itu di asrama, katanya lagu itu seperti penanda bahwa hari yang sudah berlalu tidak pernah benar-benar berlalu dalam ingatan, ia akan terus menempel apa pun itu, berbeda halnya dengan besok atau lusa yang bisa saja tidak pernah datang. Saat aku bertanya di mana sahabatnya itu sekarang. Ayah bilang ia sudah meninggal dunia, namun Ayah tidak pernah menjelaskan penyebab kematiannya. 

Aku bisa merasakan apa yang Ayah rasakan atas sahabatnya itu, demikian juga saat ini yang aku rasakan atas Ayah. Dan lagu itu pun menjadi lagu kesukaanku, yang aku percaya sebagai sebuah penghubung aku dengan ingatan-ingatan tentang dirinya.

Setelah selesai menyiapkan segalanya seperti biasa, aku pun membuka pintu perpustakaan lebar-lebar, lalu duduk di depan meja menunggu pengunjung datang. Buku tamu tergeletak di meja atas, bergeming menunggu pengunjung pertama yang datang, memegangnya lalu membubuhkan sebuah nama di dalamnya. 

Suara langkah sepatu menghentak lantai membuat aku berdiri untuk melihat siapa pengunjung pertama. Seorang laki-laki tua dengan rambut yang sudah memutih, berkaca mata tanduk membingkai wajahnya, ia tersenyum, mengisi buku tamu lalu berlalu sambil menyapaku dengan anggukan ramah. Setelah itu pun aku kembali duduk dan masih terus berharap. Beberapa pengunjung berdatangan namun tak satu pun dari mereka menuliskan nama Pangesti di buku tamu. 

Seperti kemarin, waktu yang terlewat pun terasa sangat menyiksa. Lalu hujan turun, suasana di perpustakaan semakin senyap, hanya suara tetes air hujan menghujam genteng yang memenuhi setiap penjuru. Aku pasrah dan mulai berselancar di internet sembari berbalas chat dengan teman-teman mayaku. 

Di tengah hujan yang semakin lebat. Aku tidak mendengar langkah kaki seorang pengunjung, sebab suara hujan jauh lebih keras. Saat ia menarik buku tamu sembari menyibak rambutnya dan menyelipkannya ke telinga, aku terkesima menatapnya. Beberapa bagian dari pakaiannya terlihat agak basah akibat cipratan air hujan, payungnya pun masih tergeletak di depan pintu masuk, hitam dan basah.

Aku berdiri terpukau menatapnya, tapi ia tidak sadar bahwa aku menatapnya begitu lekat. Setelah selesai ia mengisi buku tamu, ia melirik ke arahku lalu tersenyum malu-malu, dan ia pun berlalu menuju ke dalam. Aku menarik buku tamu, memastikan siapa nama perempuan itu. Jantungku berdebar menguat, mataku sedikit menegang, aku diserang gugup yang tidak berdasar. “Pangesti,” pelan kueja nama yang tadi dituliskannya.

Aku menoleh kesamping, mencari di mana ia duduk. Tapi aku tidak menemukannya. Aku bergeser sedikit ke kanan, memanjangkan leherku untuk bisa menangkap sudut yang terhalang rak buku, tapi aku juga tidak menemukannya. Karena sudah terlanjur penasaran, aku pun beranjak dari tempatku berjaga, menyusuri koridor melewati beberapa meja baca. Aku berhenti sejenak, memerhatikan ruang di antara rak-rak buku, mencari dimana ia berada.

Apa tadi aku hanya berhayal. Pikirku tidak percaya. Namun perasangkaku itu patah ketika kedua bola mataku menemukan sosok perempuan berambut panjang sebahu, berkulit putih (mungkin hampir kuning), dengan setelan kemeja merah muda bercorak bunga dan rok hitam polos hingga lutut. Ia benar-benar mempesona, sama seperti yang aku bayangkan selama ini.

Aku masih mematung memerhatikannya, orang-orang rasa lenyap dari sekitar, yang aku yakini hanya ada aku dan dia. Ia berdiri di depan rak yang berisi kumpulan novel-novel lama, aku tahu ia pasti mencari sesuatu di sana.

Dengan langkah yang coba aku beranikan, aku akan menghampirinya dan mencoba membantunya menemukan apa yang sedang dicarinya. “Ada yang bisa dibantu, sedang mencari apa?” Dalam hati aku sangat menyesal mengeluarkan pertanyaan seperti itu, sebab kesannya aku sok kenal sok dekat.
Ia menoleh ke arahku dan memperlihatkan sesungging senyum yang begitu manis. “Aku sedang mencari novelnya Pram,” ucapnya singkat. Aku mengangguk-anggung kikuk. “Pramoedya Ananta Toer.” Ia hanya mengangguk dengan mata terus mencari di rak buku. “Judulnya?” “Bumi Manusia.” Aku pun mendekat dan berdiri di sampingnya.

Bisa terendus olehku aroma parfumnya yang begitu nyaman di penciumanku. Kulipat tangan kebelakang agar tidak terasa canggung dan aku pun membantunya mencari novel tadi. Setelah kurang lebih lima menit waktu berlalu aku membuka bicara. “Mungkin sudah habis dipinjam.” Ia menoleh lagi ke arahku. “Mungkin juga sih.” “Aku akan mengeceknya di komputer,” ucapku sambil berpaling untuk kembali menuju meja kerjaku.

Aku tidak menoleh kebelakang untuk memastikan apakah ia mengikutiku. Akan tetapi aku bisa mendengar langkah kakinya samar menapak di belakangku. Aku tersenyum sirat sejenak. “Hujan masih lebat,” ucapku saat melihat ke luar lewat pintu utama. Namun ia tidak berkomentar. 

Aku mengecek di komputer, sedangkan ia berdiri di depan meja menunggu. Beberapa detik kemudian aku sudah menemukan apa yang aku cari. “Maaf kau harus kecewa,” aku melirik ke arahnya sejenak sebelum melanjutkan kata-kataku. Ia masih diam menunggu. “Semua buku sedang dipinjam, padahal ada tujuh eksempler.” 

Bisa kulihat ia menghela napas kecewa. “Apa kau mau aku masukkan ke dalam daftar tunggu, sebab novel itu tidak pernah absen di pinjam.”

“Ada berapa orang yang berada di daftar tunggu?” Aku mengecek sejenak. “Ada delapan orang.”
Dia terlihat semakin kecewa. “Berarti aku harus menunggu cukup lama.” “Bukunya akan dikembalikan satu hari ini. Jika kau memang sangat membutuhkannya aku bisa membantu.”

“Apa tidak apa-apa?” Ia terlihat ragu.

Aku tersenyum. “Kau sangat membutuhkannya kan dan sepertinya kau tidak punya waktu menunggu terlalu lama.” Ia mengangguk.

“Aku harus secepatnya menyelesaikan tugasku ini, sebab waktunya tinggal tiga hari lagi.” “Baiklah akan aku preoritaskan kamu lebih dulu.

Bisa tahu siapa namamu?” aku berpura-pura tidak tahu. “Pangesti.” Aku mengetik namanya.

“Jika hingga siang bukunya belum datang, mungkin nanti sore. Tapi kau bisa mengambilnya besok.
Besok pagi ya, jangan terlalu siang sebab aku berjaga di sini hingga tengah hari.” Ia mengangguk, mengucapkan terima kasih. Lalu berpaling untuk kembali ke dalam. 

Tak ada alasan lagi bagiku untuk memanggilnya, apalagi mengajaknya untuk melanjutkan percakapan. Aku memandangnya sembari mengutuk diriku sendiri. Ayo bodoh, ajak ia bicara lagi. 

Dorongan itu terus mengusikku. Namun hingga ia mengambil sebauh buku lalu duduk di depan meja samping rak, aku hanya berani menatapnya dari kejauhan. Mengawasinya tanpa mencoba untuk menghampirinya.

Di saat seperti ini aku ingin waktu tidak pernah bergerak, aku ingin terus seperti ini, bisa mengawasinya meski hanya sembunyi-sembunyi. Kendati demikian waktu malah rasa cepat berlalu, hujan sudah mereda, dan sebentar lagi waktu berjagaku akan usai. 

Beberapa orang mulai pergi, hingga akhirnya Pangsti juga beranjak dari tempat ia duduk. Saat ia berlalu di hadapan mejaku, aku tersenyum ke arahnya, ia juga demikian.

Hey,” panggilku membuat langkahnya berhenti lalu berpaling ke arahku. “Jangan lupa payungmu,” ucapku canggung. “Oh, iya. Terima kasih ya,” dan itu menjadi momen perpisahan kami hari ini.

Aku sedikit lega karena bisa melihatnya, dan dalam hatiku entah kenapa tumbuh perasaan suka yang diawali oleh rasa penasaran. Namun bersamaan dengan itu aku mengutuk diriku sendiri karena terlalu takut untuk memanfaatkan kesempatan yang ada.

Ah, masih ada besok. Ketuk hatiku sambil mengingat bahwa ia harus ke perpustakaan besok untuk mengambil novel yang ingin dipinjamnya. Sambil membereskan buku-buku yang di tinggalkan pengunjung di atas meja baca, aku terus saja menyusun rencana tentang topik pembicaraan yang akan kami bahas besok.

Pasti besok akan sangat menyenangkan. Aku menimbang-nimbang apakah tidak apa-apa jika kami membahas masalah yang selalu diceritakannya lewat email itu. 

Selesai beres-beres, aku kembali duduk di meja kerjaku, menunggu Reza datang, namun lagi-lagi ia terlambat datang hari ini, dan semakin hari semakin molor saja. Aku sangat ingin marah padanya, namun hatiku sudah terlanjur senang hari ini, jadi aku tidak berkomentar tentang keterlambatannya datang.

Lagi pula aku sedikit kasian melihatnya, sepertinya ia sedang dirunduk sebuah masalah, wajahnya murung, matanya terlihat jelas habis menangis, tapi aku tidak ingin bertanya sebab untuk apa aku bertanya, kami kan hanya rekan kerja, tidak pernah saling kenal secara mendalam.

Sebelum pergi aku memberitahunya, jika ada pengunjung yang mengembalikan novel Bumi Manusia karya Pram tolong di simpankan di dalam laci sebab aku ingin meminjamnya. Ia mengangguk tanpa membuka suara, menatapku sejenak seperti ingin mengucapkan sesuatu, tapi ketika aku tunggu ia tidak kunjung bicara, maka aku pun berpaling untuk pulang.

Di rumah aku banyak melamun, Ibuku beberapa kali menanyakan keadaanku, aku terus menghindari dari pertanyaan-pertanyaannya lalu melanjutkan lamunanku di dalam kamar, hingga aku tertidur lagi seperti kemarin, tanpa mimpi sedikit pun dan saat terbangun tahu-tahu hari sudah berubah gelap.

Aku tidak bermain game, tidak melakukan apa pun, hanya berbaring dengan monitor komputer yang kubiarkan menyala. Aku membiarkan halaman emailku terbuka, berharap sebuah email masuk.

Aku makan malam bersama Ibu dan tanteku yang baru pulang dari kantor, tidak biasanya hal seperti ini terjadi, sebab biasanya jika malam begini aku akan makan paling akhir ketika orang-orang sudah tidur.
Tanteku pun sempat bertanya, namun aku hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban, Ibu juga beberapa kali menggodaku dengan mengatakan bahwa aku sedang kasmaran. Jelas aku menyangkalnya sambil berusaha membuka topik pembicaraan yang lain.

Sesuatu benar-benar sudah berubah pada diriku. Malam itu aku juga menemani Ibuku menonton televisi, dan ketika ingin pergi tidur aku baru menyadari bahwa ada satu email masuk. Email itu dari Pangesti. Aku jadi bersemangat untuk membacanya :

Sekali lagi aku ingin banyak berterima kasih padamu karena masih setia menjadi pendengar yang baik, dan jika kau pun sampai memikirkannya aku benar-benar sangat berterima kasih sekaligus meminta maaf karena sudah  merepotkanmu. Aku tahu kau adalah orang yang baik, demikian aku menilaimu walau kita belum mengenal secara baik satu sama lainnya.Mungkin aku harus jujur padamu tentang satu hal, akan tetapi sebelum itu aku ingin menceritakan satu lagi kisahku kepadamu. Aku tak pernah membicarakan hal ini dengan siapa pun sebab aku tidak pernah bisa menahan rasa sedihku pabila mengingat ini semua.Ini masih kisah yang sama antara aku dan Ryu. Seperti yang kami perkirakan sebelumnya bahwa hal terbaik yang diberikan Tuhan pada akhirnya tidak pernah terasa baik untuk perasaan kami. Kami memutuskan berpisah secara baik-baik, membicarakannya dengan cara yang lebih dewasa. Walau baik hatiku atau pun hatinya terserang perih yang tidak berujung.Dulu aku pernah membaca sebuah cerita tentang percintaan yang terlarang. Bukan perbedaan keyakinan tapi lebih kepada perbedaan warna kulit. Dulu sekali di Amerika orang kulit putih terlarang menikah dengan orang kulit hitam. Namun yang namanya perasaan siapa yang bisa melarangnya. Pasangan beda warna kulit itu berkali-kali dipisahkan, namun mereka berkali-kali juga mencari cara agar bisa terus bersama.Hanya manusia yang tidak punya hati yang tega melakukan hal macam itu pada dua insan yang saling mencintai sepenuh jiwa. Demikianlah kenyataan, kita hidup dengan banyak darma dan norma, yang sebenarnya bertujuan menjadikan manusia untuk lebih baik. Tapi tidak semua hal itu bisa kita terima demikian juga dengan orang lain yang tidak bisa menerima kenyataan tentang diri kita.Apalah arti sebuah hidup jika warna kulit membuat manusia beda derajatnya, seseorang tidak bisa memilih untuk berkulit hitam atau putih, tapi untuk berkeyakinan manusia bisa memilih, memilih sekaligus tidak bisa memilihnya. Sejak lahir kita sudah dipilihkan secara sepihak oleh orang tua kita tentang keyakinan, dididik dengan cara mereka, dibentuk dengan cara mereka memandang dunia, maka jadilah kita seperti mereka.Menghianati apa yang sudah kita terima dari orang tua kita merupakan kesalahan besar yang hampir mirip seperti kisah cinta perbedaan warna kulit yang aku ceritakan di atas, dan masalah keyakinan pada akhirnya tidak jauh berbeda dengan masalah memiliki warna kulit. Kita tidak bisa memilih, semua itu sudah mendarah daging.Lalu apa rencana Tuhan atas perbedaan Agama, apakah Tuhan menginginkan sebuah patah hati seperti yang kami alami, kurasa Tuhan tidak setega itu. Tuhan adalah maha besar, saking besarnya, manusia tidak akan pernah mampu memahami apa yang Tuhan takdirkan kepada kita. Kita adalah pewatakan yang Tuhan ciptakan sebagai aktor dalam sebuah film yang bernama kehidupan. Kita bisa berimprofisasi, tapi kita tidak mungkin bisa merubah kisah yang sudah Tuhan tuliskan untuk kita.Dan pemikiran macam ini jelas adalah pemikiran ayng sangat pesimis. Mungkin karena aku sudah sangat lelah untuk optimis. Dan tak lama setelah kami memutuskan untuk berpisah sebuah badai datang menyerbu. Kukira aku berada di titik badai sehingga aku belum bisa menyadarinya, padahal sesuangguhnya aku sudah terseret begitu dalam ke dalam pusaran badai yang dasyat.Semua itu mengaduk-ngadukku dan menghampaskanku dengan kenyataan bahwa aku harus bisa menerima kehilangan Ryu untuk selama-lamanya. Aku menyalahkan diriku atas kematiannya. Andai sedari awal aku menolaknya karena sadar tembok yang kami hadapi terlalu kokoh, mungkin tidak akan ada kisah memilukan seperti ini. Aku mencintai Ryu, sangat mencintainya, dan aku sangat berharap jika nanti aku mati, aku ingin Tuhan mempertemukan kami lalu membiarkan kami terus bersama.Kadang cinta datang saat tidak terlalu diperlukan, dan pergi saat sangat dibutuhkan. Maafkan aku sudah membuat kau membeban memikirkan masalahku ini. Dan setelah aku pikirkan, sepertinya aku tidak bisa memberitahumu sesuatu yang aku pikirkan sedari awal. Maafkan aku. Pangesti".
Aku semakin tak tega jika nanti kami berjumpa membahas lagi tentang hal ini. Maka aku pun membalas emailnya : Terima kasih kau sudah percaya denganku dan mau bercerita ini padaku. Besok kita akan berjumpa lagi, dan semoga perjumpaan kita bisa membuat kau menjadi lebih baik, lebih tegar, dan lebih bahagia.

Setelah membalas email tadi aku tidur dengan harapan besok adalah hari yang sangat indah.

~ Aku bersyukur cuaca sangat cerah hari ini, walau perasaanku masih sama seperti kemarin. Tidak sabaran menunggu kedatangan Pangesti. Di dalam laci meja aku menemukan novel Bumi Manusia karya Pram. Reza sudah menyimpannya untukku. Di atas novel itu terdapat selembar kertas yang berisi permohonan maafnya padaku. Mungkin ia merasa bersalah karena beberapa hari terakhir ini datang terlambat.

Aku sedikit tersenyum membaca permohonan maafnya itu dan memaafkannya dalam hati. Kurang lebih pukul sembilan pagi, Pangesti akhirnya muncul. rambutnya diikat kebelakang, mengenakan baju kaos putih bergambarkan salah satu adegan dalam film My Neighbor Totoro. Celana panjang abu-abu, dan tas selempang hitam polos tersandang di bahu kanannya. Ia masih sama memukaunya seperti kemarin.

Sambil mengisi buku tamu ia menyapaku dengan sapaan ‘hai’. Aku tersenyum sambil meletakkan novel Bumi Manusia di samping buku tamu yang sedang di isinya. “Ini novelnya, kau bisa mengisi kartunya,” ucapku menjelaskan.

Ia mengisi kartu tadi lalu menyerahkannya kembali kepadaku, setelah itu ia masuk dan duduk di depan meja baca, ia mulai mengerjakan tugasnya. Jelas ini bukan waktu yang tepat untuk mengajaknya bicara, dan aku terus memerhatikannya mencari kesempatan yang tepat agar bisa bicara dengannya.
Pukul sebelas, ia merapikan peralatannya, memasukkannya kembali ke dalam tas. 

Aku memanfaatkan hal itu, setengah berlari menghampirinya dan duduk di hadapannya tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Ia cukup kaget tapi ia masih mencoba untuk tersentum. “Bagaimana, sudah selesai tugasmu?” Tanyaku mencari alasan.

“Sedikit lagi. Aku akan menyelesaikannya di rumah.” “Kau baik-baik saja kan?” Tanyaku lagi, kali ini dengan nada yang serius. Bisa kulihat kerut heran di antara keningnya. “Aku baik-baik saja,” jawabnya cepat.

“Memangnya ada apa?” Ia balik bertanya. Aku agak ragu mengatakannya, tapi tetap saja aku ucapkan. “Keadaanmu, masalahmu dengan Ryu,” suaraku pelan. Ia masih terlihat heran. “Ryu,” nadanya menyebutkan nama itu penuh dengan tanda tanya.

“Kekasihmu dulu,” jelasku lagi. Ia menatapku bingung. “Aku tidak pernah punya kekasih bernama Ryu.” Wajahku memerah padam. Apa ia hanya ingin mengujiku. Pikirku. “Sepertinya kau salah orang,” ucapnya sambil berpikir.

 Aku terdiam, benar-benar tidak tahu harus mengucapkan apa. Aku malu, sekaligus bingung. Dan dengan pelan aku berucap. “Email-email itu. Kau memberitahuku lewat email-email itu.” “Email apa. Aku tidak pernah mengirim email.” Aku berdiri cepat, menatapnya untuk memastikan ia benar-benar serius.

“Maaf, sepertinya aku memang salah orang,” aku berpaling dan benar-benar merasa sangat malu. Aku duduk di meja kerjaku, melirik ke arah Pangesti yang lewat di depan untuk ke luar.

Ada apa ini. Pikirku tidak percaya. Aku baru saja mempermalukan diriku sendiri di depan seorang perempuan. Dan ini benar-benar memalukan. Aku merasa di permainkan oleh seseorang, namun aku tidak tahu siapa itu. Apakah Pangesti hanya mempermainkanku, aku tidak bisa mempercayai pemikiran seperti itu.

Waktu terus bergerak, semakin lama semakin jauh, jam kerjaku sudah usai, namun Reza tidak juga kunjung datang, aku sangat kesal, dan ingin marah. Bisa saja aku tumpahkan kemarahanku ini padanya, tapi ia memang salah sudah datang terlambat.

Aku menunggunya dengan gelisah, dengan amarah yang mengebu-gebu. Tapi hingga pukul dua siang ia tidak kunjung datang, lalu pukul tiga, empat, hingga akhirnya aku harus menutup perpustakaan ia tidak pernah muncul. Ia seperti raib tak pernah hadir lagi, hingga suatu hari seorang laki-laki datang mengaku sebagai petugas baru.

Apa yang sebenarnya terjadi pada Reza. Aku tidak pernah tahu. Aku tidak mengenalnya, tidak tahu tempat tinggalnya. Dia seperti ditelan bumi. Bersamaan dengan itu pula, tak pernah aku dapati lagi email dari Pangesti. Email itu sudah berakhir, akan tetapi terkadang aku masih saja memikirkannya. Dan aku menarik sebuah kesimpulan, yang mungkin saja tidak pernah benar adanya.




Post a Comment

GEMIRA Lampung

{picture#https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgyBU9hIcRLQoXMle_XSZQhqhwcCFT2WmFHBKKpAji3745cWzlqCAQ4KBfmOMNJIE0DsT1hQDt6z9vL_gT130QoAQHhwAGBI5Z7JMgJ4aQlY6QTVxsd3F6Q3uoAfwDw6iEIe9X6hohPXyskOw0VAOhbLUrjyyUYFIMXscyTikFrklcKHtL5JNAKbf1YB70=s276} GEMIRALAMPUNG.COM adalah portal berita terkini provinsi lampung {facebook#https://www.facebook.com/Lampung-Siger-112788135918185} {twitter#https://twitter.com/gemiralampung} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#https://www.pinterest.com/gemiralampung/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCQyVKhTU6KnMdpXd3qAuAyg} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}
Powered by Blogger.