Jatuh Cinta pada Puisi-Puisi Wisława Szymborska
Puisi adalah diri dan hidupku, karena puisi kurasakan mampu menembus ke kedalaman ruang rasaku atau ruang rasa seseorang yang membuatnya. Baik pembaca maupun penulis akan selalu berupaya menumpahkan seluruh rasa dan angan melalui bait-bait puisi. Pembaca senantiasa berusaha dengan segenap kemampuan menelisik tiap-tiap aksara yang membentuk kata, kalimat, dan bait-bait untuk membentuk pertalian makna. Puisi bisa saja terpadu antara kalimat satu dengan kalimat lainnya, juga melompat-lompat sekehendak hati penulisnya. Bagi penikmat puisi tentu saja dia senantiasa asyik dengan lompatan-lompatan tersebut atau pertalian makna yang begitu dalam dari puisi yang dibacanya, semua itu tergantung pembaca. Tapi, ada juga yang mengatakan puisi itu membuat pusing kepala.
Suatu pagi, aku menjelajahi ruang media sosial. Seperti biasa karena aku sangat menyukai puisi kubaca puisi-puisi penyair-penyair Indonesia. Aku sangat menyukai gaya tulisan mereka. Ada yang begitu jelas maknanya, mengalir dan mudah dipahami, ada pula diksi yang terasa baru dan membuat puisi itu semakin dalam maknanya. Dari itu aku terus belajar dan belajar. Dari itu pula kutemukan keanggunan Wislawa Szymborska dalam menulis puisi. Ia menuliskan hal-hal yang lumrah, dengan diksi-diksi yang lumrah namun pertalian maknanya begitu kuat.
Wislawa Szymborska adalah sastrawan Polandia yang medapat nobel sastra pada tahun 1996, dan aku begitu menyukainya.
Menulis puisi itu sebuah perjuangan untuk mendapatkan ketenangan dan kedamaian, karena betapa silitnya menulis puisi di antara keramaian dan kebisingan atau dilakukan di dalam riuhnya bis kota ataupun stasiun kereta.
Bagi Wislawa Szymborska menulis puisi adalah kebutuhan spritual untuk mengatakan sesuatu yang lebih umum tentang dunia, dan terkadang mengenai sesuatu yang personal. Dia menulis untuk pembaca individu -- meski ia ingin memiliki banyak pembaca seperti itu. Ada sejumlah penyair yang menulis untuk orang-orang yang berkumpul di ruangan besar, hingga mereka dapat melalui sesuatu secara bersama. tetapi, Wislawa Szymborska lebih suka pembacanya memiliki ‘hubungan satu lawan satu’ dengan puisi-puisinya.
Menyatakan perasaan seseorang kapada orang yang tak dikenal sedikitnya seperti menjual jiwa seseorang. Di sisi lain, hal itu membawa kebahagiaan yang besar. Setiap orang memiliki hal-hal menyedihkan yang pernah terjadi dalam hidup. Terlepas dari semua itu, ketika perkara mengerikan menimpa seorang penyair, paling tidak ia dapat menggambarkannya. Tapi ada pula orang-orang yang, lantaran suatu hal, divonis untuk melewati sejumlah pengalaman hidup dalam kesunyian. Kenyataan hidup seperti itulah yang kurasakan dan membawaku pada kecintaanku terhadap puisi menjadi semakin dalam. Karena ia adalah jiwa.
Berikut ini adalah puisi-puisi Wislawa Szymborska yang sangat menggugah semangatku untuk terus menulis puisi.
Berikut ini adalah puisi-puisi Wislawa Szymborska yang sangat menggugah semangatku untuk terus menulis puisi.
Di Bawah Sebuah Bintang Kecil
Aku minta maaf pada peluang
karena menyebutnya penting.
Aku minta maaf pada penting jika ternyata aku keliru.
Tolong jangan marah, kebahagiaan, jika kau kuambil sebagai hakku
Semoga kematianku sabar melihat kenangan-kenanganku menghilang.
Aku minta maaf pada waktu atas segala dunia yang kuintip tiap detik
Aku minta maaf pada cintaku di masa lalu
karena mengira bahwa yang terakhir adalah yang pertama.
Maafkan aku, wahai perang yang jauh karena pulang membawa bunga.
Maafkan aku, wahai luka yang menganga, karena menyuntik jariku.
Aku minta maaf atas segala perbuatan jahatku pada mereka
yang menangis dari kedalaman.
Aku minta maaf pada mereka yang menunggu di stasiun Kereta
karena telah tertidur hari ini pada jam lima subuh.
Maafkan aku, wahai harapan yang melolong-lolong,
karena tertawa dari waktu ke waktu.
Maafkan aku, wahai gurun, karena aku tak menyuruhmu
berlari demi sesendok air.
Dan engkau, rajawali, tak berubah dari tahun ke tahun
selalu di sarang yang sama,
Tatapan matamu selalu tepat berada di titik yang sama dalam ruang
Maafkan aku, bahkan jika ternyata engkau telah mati kaku
Aku minta maaf pada pohon-pohon yang ditebang demi empat kaki meja
Aku minta maaf pada pertanyaan-pertanyaan besar atas jawaban-jawaban kecil
Kebenaran, tolong jangan begitu peduli akan aku
harga diri, bermurah hatilah. Beranaklah bersamaku, o misteri keberadaan
bersamaan dengan itu kutarik benang peristiwa dari keretamu.
Jiwaku, jangan kau ambil hati bahwa hanya engkau
yang kumiliki dari dulu hingga kini.
Aku minta maaf pada segala sesuatu karena aku tak bisa
berada di semua tempat pada saat yang bersamaan.
Aku minta maaf pada setiap orang karena aku tak dapat
menjadi separo wanita dan separo pria.
Aku tahu aku tak akan dibenarkan selama aku masih hidup
jangan bebani aku dengan kehendak untuk sakit, wahai pidato
karena aku membawa kata-kata yang berat,
Berilah aku tugas yang berat sehingga kata-kata itu akan tampak tringan.
Tak Ada Yang Dua Kali
Tak ada yang pernah terjadi dua kali
semua itu karena, kenyataan
bahwa kita hidup seadanya saja
kemudian meninggal tanpa kesempatan berbenah
Bahkan jika tak ada seorang bodoh
dan kemudian kamu menjadi orang paling bodoh di planet ini
kau tak akan pernah mengulang kelas di musim panas
kelas ini hanya sekali saja
Hari ini tak pernah disalin dari hari kemarin
tak ada dua malam yang akan mengajarkan kebahagiaan
di cara yang persis sama
juga dengan ciuman yang benar-benar sama
Suatu hari, mungkin, sejumlah lidah bermalasan
menyebut nama-nama dengan tak sengaja
lalu aku serasa bunga mawar yang dilemparkan
dalam ruangan, seluruh aroma dan warna
Di hari selanjutnya, meski kau bersamaku
aku tak bisa membantumu melihat jam
Setangkai mawar? Setangkai mawar? Akan jadi apa?
Apakah bunga atau sebuah batu?
Mengapa kita memperlakukan hari sekilas
dengan begitu banyak ketakutan yang tidak perlu dan kesedihan?
Ada dalam sifatnya tidak tetap:
Hari ini selalu pergi besok.
Dengan senyum dan ciuman, kita lebih senang
untuk mencari kesepakatan di bawah bintang kita,
meskipun kita berbeda kemudian setuju
seperti dua tetes air.
Laporan dari Rumah Sakit
Kami bertanding untuk menggambar banyak hal: siapa yang akan mengunjunginya.
Dan aku kalah. Aku bangkit dari meja kami.
Jam besuk baru saja akan dimulai.
Ketika aku menyapa dia tidak mengatakan sepatah kata pun.
Aku mencoba untuk mengambil tangannya - ia menariknya kembali
seperti anjing lapar yang tidak ingin melepas tulangnya.
Dia tampak malu tentang kematian.
Apa yang kau akan katakan kepada orang seperti itu?
Mata kita pernah bertemu, dalam sebuah foto yang palsu.
Dia tidak peduli apakah aku tinggal atau pergi.
Dia tidak bertanya tentang siapa pun dari meja kami.
Bukan kau, Barry. Atau kau, Larry. Atau kau, Harry.
Kepalaku mulai terasa sakit. Siapa yang sekarat pada siapa?
Aku mulai pergi menemukan obat modern dan tiga bunga violet dalam stoples.
Aku berbicara tentang matahari dan kemudian padam.
Ini adalah hal yang baik mereka memiliki tangga untuk sebuah pelarian
Ini adalah hal yang baik mereka memiliki gerbang untuk membiarkanmu keluar.
Ini adalah hal yang baik kalian sedang menunggu di meja kami.
aroma rumah sakit membuat aku merasa sakit.
(Diterjemahkan oleh Wawan Kurndari Versi Ingris "Nothing Twice" oleh Stanislaw Baranczak dan Clare Cavanagh).
Pada Pandangan Pertama
Dua jiwa telah percaya
bahwa satu ikatan rasa telah merengkuh mereka.
Keindahan adalah sebuah kepastian
tapi ketidakpastian, ia jauh lebih indah.
Karena sebelumnya mereka tak mengenal satu sama lain,
mereka menduga bahwa tiada yang terjadi diantara mereka.
Lalu bagaimana dengan dua sisi jalanan,
ratusan anak tangga, dan lorong demi lorong
dimana mereka saling berpapasan jauh di masa sebelumnya?
Aku ingin bertanya pada mereka
ingatkah pada suatu ketika –mungkin saja
saat melintasi pintu yang berputar
wajah mereka saling bersua?
sebuah “permisi” di tengah keramaian
atau seruan “salah sambung” pada sebuah panggilan.
Namun aku tahu jawaban mereka:
tidak, mereka tak ingat itu semua.
Mereka akan sangat-sangat takjub
untuk mengerti bahwa sekian lamanya
pintu kementakan telah bermain-main dengan mereka.
Sang peluang belum sepenuhnya siap
untuk menjadi takdir bagi mereka
ia muncul sesaat, kemudian mundur seketika
menghalangi jalan mereka
dan seraya tertawa nakal
ia melompat ke tepi masa
Selalu ada tanda demi tanda, isyarat demi isyarat:
tapi apalah artinya jika mereka tiada terbaca.
Bisa jadi tiga tahun yang t’lah lalu
atau mungkin kemarin Rabu
secarik selebaran tertiup bayu
dari bahu sampai ke bahu?
Ada yang lenyap dan ada yang tertemu.
Siapa yang tahu jika ia adalah sebuah bola
di rimbunnya semak masa kanak-kanak.
Di antara puluhan bel dan gagang pintu
dimana ratusan jejak sentuhan menumpuk saling bertemu
Pun ketika koper mereka berdampingan di ruang bagasi.
Mungkin mereka saling berbagi mimpi di malam hari
namun –sayangnya- terhapuskan di kala pagi.
Setiap mula
adalah keberlanjutan nan niscaya
dan lauhul mahfudz
tak akan pernah sepenuhnya terbuka.
(Diterjemahkan dari versi Ingris oleh M. Syahid Sundana).
Penulis : Yi Sulisti
Peterjemah : M. Syahid Sundana.
Editor : Elji Zein

Post a Comment